Berita

STIKES SANTU PAULUS DAN PRODI MAGISTER ILMU KEBIDANAN UNHAS MENGADAKAN PKM BERSAMA DI DESA POCOLIKANG

Setelah menyepakati Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada hari Sabtu (24/2/18),  di hari yang sama pihak STIKES Santu Paulus dan Prodi Magister Ilmu Kebidanan UNHAS langsung mengadakan follow up melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di desa Pocolikang, Kecamatan Ruteng.  Boleh dikatakan, kegiatan ini menjadi kegiatan perdana dari kesepakatan MoU kedua belah pihak.

Dalam Kegiatan PkM itu, Pihak Prodi Magister Ilmu Kebidanan UNHAS diwakili oleh Dr. Mardiana Ahmad, S.SiT, M.Keb dan pihak STIKES Santu Paulus diwakili oleh sejumlah Dosen. Turut hadir dalam kegiatan tersebut  Kepala Desa Pocolikang, Bpk. Alfonsus Sudin, Kepala Puskesmas Wae Mbeleng,  Bpk Gabriel Ganggut, SKM, para aparat desa Pocolikang, dan para kader kesehatan se-desa Pocolikang.

Kegiatan perdana PKM di desa Pocolikang berupa penyuluhan dan sharing informasi. Dalam kesempatan itu, Kepala Desa, Alfonsus Sudin menyampaikan rasa terimakasihnya kepada STIKES santu Paulus yang boleh menghadirkan pihak UNHAS untuk berkunjung dan berbuat sesuatu bagi kemajuan desa Pocolikang. Semoga Kegiatan ini menjadi langkah awal dari pihak UNHAS untuk berkontribusi bagi desa Pocolikang. Selanjutnya, Alfonsus menambahkan bahwa desa Pocolikang berbangga atas dukungan STIKES Santu Paulus yang telah memilih desa Pocolikang sebagai Desa Binaannya. Semenjak penandatanganan MoU pada akhir tahun 2014, STIKES telah menunjukkan aneka kontribusi kemajuan masyarakat desa Pocolikang.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Wae Mbeleng,  Gabriel Ganggut, SKM membeberkan data kesehatan terkini dari masyarakat Pocolikang. Ia menjelasakan bahwa sejauh ini keadaan kesehatan masyarakat desa Pocolikang (sebagai salah satu desa yang menjadi bagian dari wilayah kerja puskesmas Wae Mbeleng) masih dalam keadaan rata-rata cukup baik. Angka kelahiran bayi selalu meningkat, angka kematian bayi menurun dan angka kematian ibu nol.  Selama Wae Mbeleng menjadi Puskemas, sejak tahun 2010 sampai saat ini belum pernah terjadi kasus kematian ibu. Kasus-kasus kejadian luar biasa masih minim, namun pernah ada kejadian bayi yang lahir tanpa batok kepala. Selain itu, gejala-gejala penyakit lain semisal hipertensi dan Ispa menunjukkan angka yang rada-rada sedang. Diakhir kata, Gabriel menyampaikan terimakasih atas Kehadiran pihak UNHAS melihat langsung situasi di Desa Pocolikang. Ia juga berharap agar pihak UNHAS yang nota bene sebagai Perguruan Tinggi Unggulan di Indonesia Timur akan turut serta membantu pihak puskesmas Wae Mbeleng dalam penanganan masalah kesehatan khususnya di desa Pocolikang.

Ns, Bonavantura Nggarang, S.Kep.,M.Kes mewakili STIKES Santu Paulus, menjelaskan bahwa Desa Pocolikang merupakan Desa Binaan STIKES Santu Paulus yang telah membangun  kerjasama sejak tahun 2014. Aneka kegiatan sudah banyak dijalankan misalnya berupa pengkajian awal, penyuluhan kesehatan, pengobatan gratis dan beberapa praktek mahasiswa. Terkait dengan kehadiran pihak UNHAS di desa Pocolikang, Ns, Bonavantura berharap agar pihak Prodi Magister Ilmu Kebidanan UNHAS bisa turut ambil bagian dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat desa Pocolikang.

Menaggapi itu, Dr. Mardiana yang menjadi keterwakilan dari Prodi Magister Ilmu Kebidanan UNHAS merasa senang karena bisa mengujungi langsung masyarakat di desa Pocolikang. Ia berkomitment untuk menindaklanjuti kegiatan PkM di desa Pocolikang dengan berencana membuat pengabdian masyarakat berbasis kearifan lokal yang berujung pada hilirisasi produk. Dia mengambil contoh salah satunya adalah pembuatan makanan bayi dari talas. Selain itu kegiatan lain yang nanti direncanakan adalah membuat media penyuluhan berbahasa daerah untuk mengatasi persoalan penyuluhan yang kadang kurang tepat sasar.

Dalam kesempatan PkM itu, Dr. Mardiana juga menjelaskan materi penyuluhan tentang 1000 hari pertama Kehidupan. Ia mengatakan bahwa generasi yang sehat sangat ditentukan oleh 1000 hari pertama kehidupan. 1000 hari pertama kehidupan dihitung dari masa kandungan 9 bulan (270 hari)  sampai dengan bayi usia 2 tahun (730 hari). Semenjak muncul benih kehidupan dalam kandungan ibu sampai dengan usia bayi 2 tahun merupakan masa yang sangat menetukan perkembangan seorang manusia. Sehubungan dengan itu, masyarakat terlebih khusus semua orang tua mesti serius memperhatikan hal ini. Pemenuhan gizi dan nutrisi merupakan hal wajib dipenuhi pada masa tersebut. Pada usia kehamilan, ibu mesti memperhatikan gizi. Diupayakan agar ibu hamil membiasakan diri dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan menghindari makanan-makanan yang rendah gizi dan berpotensi membawa efek samping bagi kesehatan. Lalu setelah bayi lahir, ASI (Air Susu Ibu) menjadi makanan utamanya. ASI tak boleh tergantikan oleh susu yang lain, kecuali bila ibu mengidap penyakit yang beresiko besar terhadap kesehatan bayi. Bayi yang diberi ASI akan memperoleh sistem imun yang bagus ketimbang yang mengkonsumsi susu formula. ASI merupakan “Harga Mati” yang harus diberikan kepada bayi di usia tersebut. Dr. Mardiana juga menambahkan bahwa cara menyusui yang baik bagi seorang ibu adalah berkonsentrasi penuh pada bayi sehingga seluruh perhatian tercurah pada sang bayi sambil mengusap dan mengukapkan kata-kata positif. Hal ini ini sangat berpengaruh dalam perkembangan mental anak kedepan. (Theo Ndorang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *