Berita

STIKES RUTENG MELAKSANAKAN SEMINAR NASIONAL

Dok. stikes st. paulus

Ruteng-Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Santu Paulus Ruteng melaksanakan kegiatan seminar nasional dalam rangka perayaan wisuda yang akan dilaksanakan tanggal 6 Oktober 2018.

Kegiatan seminar ini dilaksanakan di aula STIKES Santu Paulus Ruteng, (Kamis, 4 oktober 2018). Tema seminar adalah ‘Menjadi Tenaga Kesehatan Yang Profesional Dan Berpikir Kritis Menghadapi Persaingan Global’.

Peserta seminar tampak antusias menyambut kedua pemateri. Peserta seminar terdiri dari wisudawan/wisudawati dan mahasiswa dan mahasiswi STIKES Santu Paulus Ruteng bersama para dosen dan tenaga kependidikan STIKET Santu Paulus Ruteng. Seminar nasional yang ber-SKP PPNI dan IBI ini dihadiri pulah oleh peserta dari luar baik perawat maupun bidan. Jumlah peserta seminar termasuk dari luar kampus STIKES santu paulus ruteng berjumlah empat ratusan orang.

Dok. stikes st. paulus

Seminar nasional dipandu secara langsung oleh moderator ibu Silfia Norce Halu dan pemateri Dr. Florentinus Tat, SKP., M.Kes dan ibu Yustina Goo, S.Pd.,M.Kes.Masing-masing pemateri menyajikan materinya sesuai kompetensi yang dimiliki.

Untuk pemateri pertama bapak Dr. Florentinus Tat menyajikan materi tentang Implementasi Kebijakan Pelayanan Kesehatan Ibu Dan Anak Di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bapak Dr. Florentinus memaparkan bahwa hasil kajian KIA di NTT masih sepenuhnya belum sesuai kebijakan pelayanan kesehatan.

“Di NTT pelayanan kesehatan masih banyak dilayani oleh dukun. Masih banyak ibu yang melahirkan ditolong oleh dukun. Seringkali pertolongan persalinan dilakukan di rumah. Selain itu, seringkali Polindes belum dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan atau masyarakat”, papar Florentinus.

Lebih lanjut, Florentinus menekankan bahwa kelompok sasaran harus menyesuaikan diri terhadap pola-pola interaksi yang ditentukan oleh kebijakan. Yang perlu diperhatikan dalam implementasi kebijakan publik adalah perubahan peilaku kelompok sasaran atau masyarakat.

“Pemberdayaan manusia merupakan ujung tombak keberhasilan, karena harus didukung oleh upaya-upaya dalam masyarakat itu sendiri. Faktor utama yang menyebabkan sumber daya masyarkat NTT dalam memahami pentingnya pelayanan kesehatan adalah faktor aksesibilitas atau kondisi geografisnya. Kondisi geografis masyarakat NTT yang masih hidup di daerah terpencil membuat minimnya tingkat kesadaran mereka terhadap pentingya akses kesehatan dan pendidikan” Lanjut Ketua Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang itu.

Pada bagian lain, Ketua Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang itu melegitimasi bahwa pelaksanaan kebijakan harus ditunjang oleh ketersediaan sumber daya manusia, materi dan metode. Beliau menyangsikan bahwa jika para pelaksana kekurangan sumber daya yang diperlukan, maka pelaksanaan kebijakan akan cenderung tidak dilaksanakan secara efektif.

Pada bagian akhir dosen Poltekkes Kemenkes Kupang tersebut menyimpulkan bahwa faktor kejelasan standar dan tujuan, ketersediaan sumberdaya, karakteristik agen pelaksana, kepentingan kelompok target, lingkungan eksternal, aksesibilitas, komunikasi, disposisi, struktur birokrasi memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja implementasi kebijakan kesehatan ibu dan anak di NTT.

Sementara pemateri kedua ibu Yustina Goo, S.Pd., M.Kes menyajikan materi tentang legalitas praktik mandiri bidan.

Aspek legalitas praktik bidan harus berasas undang-undang. Karena itu, UU no 36/ 2009 tentang kewenangan setiap tenaga kesehatan yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan untuk melakukan upaya kesehatan merupakan asas konstitusional yang legitim.

Ibu Yustina menghimbau bagi tenaga kesehatan yang menjalankan praktik keprofsiannya harus memiliki izin dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sesuai revisi Peraturan Menteri Kesehatan 1464/ 2010 menjadi PMK 28/2017.

Dalam revisi PMK tersebut menegaskan bahwa bidan merupakan salah satu dari jenis tenaga kesehatan yang memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan asuhan kebidanan sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.

Bagian lain, ibu Yustina mengutarakan tentang praktik mandiri bidan adalah tempat pelaksanaan rangkaian kegiatan pelayanan kebidanan yang dilakukan oleh bidan secara perorangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *