Opini

Profisiat Untuk Wisudawan/ Wisudawati STIKES St. Paulus Ruteng

Foto J Nelson M Vidigal.
Penulis: Ns. José Nelson M. Vidigal,SVD

Tantangan untuk mendirikan Perguruan Tinggi (PT) di tengah menjamurnya PT di Indonesia tidaklah mudah. Saat ini jumlah PT di Indonesia  mencapai 4455. Sementara yang di bawah pembinaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti) berjumlah 3244. Oleh karena begitu banyaknya PT, maka Kemenristekdikti mengeluarkan surat edaran dengan Nomor 2/M/SE/IX/2016 tentang Pendirian Perguruan Tinggi Baru dan Pembukaan Program Studi yang mulai diberlakukan tanggal 1 Januari 2017.

Salah satu isi dari surat edaran tersebut ialah pendirian PT baru yang menyelenggarakan pendidikan akademik (Universitas/Institut/Sekolah Tinggi) akan dilakukan moratorium sampai batas waktu yang akan ditentukan kemudian. Tentu maksud dari moratorium itu ialah untuk meningkatkan mutu PT yang sudah ada. Namun dalam surat edaran tersebut terdapat juga pengecualian bagi daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) dan daerah tertentu dengan kondisi dan kebutuhan khusus.

Kehadiran Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) St. Paulus Ruteng di Manggarai  Raya adalah bagian dari NTT yang termasuk dalam pengecualian tersebut (daerah 3T). Tetapi syukurlah bahwa jauh sebelum dikeluarkan surat edaran Kemenristekdikti, STIKES St. Paulus Ruteng telah mendapat ijin pendirian pada 1 Oktober 2013 dengan  nomor SK 473/E/O/2013. Pendirian STIKES menakodai dua Program Studi (Prodi), yakni Prodi Diploma Tiga Kebidanan dan Prodi Strata Satu Keperawatan.  Beberapa alasan penunjang mendasar lain yang mendukung berdirinya STIKES ini adalah bahwa angka kematian ibu dan bayi masih cukup tinggi di wilayah Manggarai Raya, dan belum ada STIKES di tiga Kabupaten di Manggarai Raya saat itu, sehingga siswa lulusan SMA yang membutuhkan sekolah kesehatan (perawat dan bidan) harus pergi berkuliah ke luar daerah. Semua alasan ini tentu sebagai sebuah tuntutan agar didirikan sebuah Sekolah Kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan banyak tenaga kesehatan yang berkualitas. Atas dasar tersebut, maka Gereja Keuskupan Manggarai (Yayasan Santo Paulus Ruteng) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai berinisiatif mendirikan STIKES.

Seiring berjalannya waktu, mimpi untuk mendirikan STIKES di tanah Congka Sae (Manggarai) menjadi kenyataan. Untuk itu penulis mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam kesuksesan ini sekaligus mengucapkan proficiat kepada STIKES St. Paulus Ruteng yang secara perdana mewisudakan 53 wisudawan dari Prodi Kebidanan, dan 6 wisudawan dari Prodi Keperawatan. Proficiat karena telah mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Manggarai yang menyumbangkan satu unit klinik (mini hospital) untuk STIKES. Proficiat karena baru pada usianya yang keempat STIKES telah dipercayakan menjadi tempat Ujian Kompetensi (UKOM) Nasional Kebidanan pada 7 Oktober 2017 lalu. Semua kesuksesan ini adalah langkah awal yang baik menuju PT yang berdaya saing global.

Tantangan bagi wisudawan-wisudawati dan STIKES St. Paulus

Kecenderungan yang masih tertambat dalam pola pikir setiap wisudawan-wisudawati setelah wisuda adalah mencari pekerjaan ketimbang menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Hal ini telah diantisipasi oleh STIKES St. Paulus Ruteng, sehingga tiga hari menjelang wisuda, pihak STIKES mengadakan Seminar Nasional yang bertemakan entrepreneurship atau kewiraswastaan. Hal ini menjadi langkah preventif yang bagus untuk menangkap peluang yang ada di NTT pada umumnya dan Manggarai Raya khususnya. Berwiraswasta melalui kunjungan rumah atau home care belum terlihat di Manggarai, belum banyak ‘buka praktek bidan’ seperti pelayanan pijat bayi, belum ada ‘buka praktek perawat’ seperti pelayanan khusus perawatan luka dan pelayanan lainnya. Kenyataan peluang usaha semacam ini tentu sangat terbuka lebar karena ditunjang oleh topografi Manggarai yang kurang bersahabat dan fasilitas kesehatan yang jauh dari jangkauan.

Maka dengan adanya pelayanan home care tentu akan mempermudah masyarakat, terutama pada penghematan biaya transportasi dan biaya rawat inap rumah sakit atau puskesmas. Peluang berwirausaha bagi tenaga kesehatan saat ini tidak hanya terletak pada ‘barang atau material’ melainkan terletak pada ‘Jasa’ seorang bidan/perawat yang professional. Bidan dan perawat yang professional harus memiliki ketrampilan kompetensi yang dibuktikan lewat kelulusan uji kompetensi. Penulis berharap bahwa para wisudawan prodi kebidanan yang telah mengikuti UKOM baru-baru ini bisa lulus semuanya, sehingga dengan demikian kredibilitas STIKES dimata publik semakin terdongkrak. Sedangkan bagi lulusan sarjana keperawatan, harus mengikuti pendidikan profesi (ners) setahun lagi sebelum terjun ke dunia kerja/berwiraswasta. Penulis juga berharap bahwa ijin operasional prodi profesi keperawatan yang sedang diajukan STIKES segera diterima sehingga lulusan perdana sarjana keperawatan bisa melanjutkan profesi di STIKES yang sama.

Ketika seorang tenaga kesehatan dikatakan professional di bidangnya, maka ia harus akuntabel atau dapat mempertanggungjawabkan tindakannya secara hukum. Dasar hukumnya ialah Undang-Undang tenaga kesehatan Nomor 36 tahun 2014 dan Undang-Undang Keperawatan Nomor 38 tahun 2014. Menurut DR. Muhammad Hadi, SKM, M.Kep, ada tiga prinsip yang harus dipegang oleh seorang bidan/perawat professional dalam menangkap peluang wirausaha saat ini, yakni: Pertama care yang lebih menyentuh pada asuhan atau pelayanan (home care). Kedua core berhubungan dengan relasi sosial antara perawat dengan tenaga kesehatan lain, antara perawat dan pasien serta keluarga pasien. Ketiga cure berhubungan dengan pengobatan. Selain tiga prinsip tersebut, seorang perawat professional juga harus bermodalkan tiga hal, yakni memiliki ketrampilan kompetensi yang dibuktikan melalui Surat Tanda Registrasi Perawat/Bidan, harus menguasai IPTEK, dan kritis terhadap situasi. Saya yakin bila prinsip dan modal yang disebutkan itu ada pada diri seorang wisudawan, maka lapangan pekerjaan selalu tersedia baginya.

Sebagai PT yang masih muda, tentu STIKES St. Paulus Ruteng masih banyak memiliki pekerjaan rumah yang perlu dibenahi. Beberapa dianataranya ialah pengajuan ijin operasional Prodi Profesi Ners, pengajuan akreditasi institusi dan peningkatan akreditasi Prodi Kebidanan dan Keperawatan yang masih C menjadi B atau A. Dengan adanya wisudawan lulusan perdana ini, besar harapan bahwa segala pekerjaan rumah itu bisa terbantu sehingga segala kebutuhan masyarakat Manggarai Raya dan NTT bisa terjawab. Viktor Frankl pernah berujar bahwa: Pencapaian kebahagiaan tertinggi bukan dalam keberhasilan, tetapi keberanian dalam menghadapi kenyataan dan daya juang. Selamat berjuang STIKES St. Paulus Ruteng.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *