Profil

STIKes St. Paulus Ruteng merupakan lembaga pendidikan kesehatan milik Gereja Keuskupan Ruteng yang bernaung di bawah Yayasan Santu Paulus Ruteng (YASPAR). Kurang lebih 52 tahun, YASPAR sudah berkecimpung dalam dunia pendidikan melalui Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pengetahun (STKIP) St. Paulus Ruteng. Pada tahun 2013, YASPAR mengambil bagian dalam usaha menciptakan tenaga kesehatan yang berkapasitas dan berkapabilitas dengan mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) St. Paulus Ruteng. STIKes St. Paulus Ruteng berkedudukan di Jalan Ahmad Yani, No. 10 Ruteng – Flores – NTT dengan jarak kurang lebih 5 km dari bandar udara Frans Sales Lega. Letak kampus sangat strategis di pusat kota Ruteng dan lingkungan hijau mendukung penyelenggaraan pendidikan yang kondusif. Penyelenggaraan perkuliahan juga didukung oleh fasilitas yang memadai. Fasilitas utama yang dimiliki oleh STIKes St. Paulus Ruteng saat ini adalah dua unit laboratorium (Keperawatan dan Kebidanan), satu buah gedung lantai II dengan 4 ruang perkuliahan, satu unit perpustakaan, lapangan bola sepak, voly, basket, kantor sekretariat kebidanan dan kantor sekretariat keperawatan. Selain itu, setiap ruang kuliah dilengkapi dengan LCD dan jaringan internet berbasis WIFI yang dapat diakses di lingkungan kampus. Pada tahun 2015, STIKes St. Paulus Ruteng berencana untuk membangun gedung perkuliahan tambahan dan asrama untuk mahasiswa. STIKes St. Paulus Ruteng juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan di tiga Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur untuk membuka kelas extension program studi D III Kebidanan dan S-1 Keperawatan. Jalinan kerja sama ini juga dipupuk untuk meningkatkan penyelenggaraan pendidikan di STIKes St. Paulus Ruteng. Program unggulan STIKes St. Paulus Ruteng adalah komitmen pada terbentuknya komunitas keluarga yang sehat. Untuk mewujudkan program unggulan ini, maka STIKes St. Paulus Ruteng telah membangun kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai untuk membentuk desa binaan oleh STIKes St. Paulus Ruteng ini. Pada setiap akhir pekan, mahasiswa bersama dosen terjun ke lokasi desa binaan untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis. Kegiatan ini juga dimaknai sebagai perwujudan Tridharma Perguruan Tinggi terutama bagian pengabdian kepada masyarakat.