Ini Pesan Mgr. Silvester San Saat Peresmian Gedung Kuliah STIKES Santu Paulus Ruteng

Ruteng-Upacara pemberkatan dan peresmian gedung Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Santu Paulus Ruteng dilaksanakan pada Jumat, 05 Oktober 2018.  Acara peresmian ini dihadiri langsung oleh Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng, Mgr. Silvester San, wakil bupati Menggarai, Bapak Viktor Madur bersama jajarannya, turut hadir pula kepala dinas kesehatan Kabupaten Manggarai, kepala dinas pekerjaan umum, Kabag humas Manggarai, sekretaris dinas PPO, dan kepala Satuan Pol PP.

Sebelum upacara misa pemberkatan gedung, rombongan Uskup bersama wakil bupati Manggarai diterima secara adat Manggarai (kepok) di depan gerbang masuk STIKES Santu Paulus Ruteng. Iringan masuk rombongan Uskup dan wakil bupati didendangankan dengan tarian musik lokal Manggarai menuju tempat yang telah disediakan.

Dok. stikes st paulus Ruteng

Hadir pula dalam peresmian gedung ini adalah calon wisudawan/wisudawati STIKES St Paulus Ruteng, tokoh masyarakat dan segenap civitas akademika STIKES St Paulus Ruteng.

Misa peresmian gedung dilaksanakan dengan meriah dan penuh hikmat. Iringan musik koor STIKES St. Paulus Ruteng membuat suasan perayaan misa peresmian gedung tampak hikmat dan antusias. Imam konselebran yang hadir dalam perayaan misa ini adalah ketua Yayasan St. Paulus Ruteng, Rm. Geradus Janur, Pr, ketua Stikes St. Paulus ruteng, P. David Djerubu, SVD, Vikjen keuskupan Ruteng, Rm. Alvons Segar, Pr dan beberapa imam lain yang turut mengambil bagian dalam perayaan ini.

Uskup ruteng sebagai selebran utama dalam perayaan peresmian gedung STIKES St. Paulus Ruteng. Di hadapan hadirin yang mengiuti misa, Mgr. Silvester San dalam khotbahnya yang diawali dengan sebuah cerita menekan tentang suatu keinginan duniawi manusia yang tidak pernah henti. Manusia memiliki status sosial yang tinggi sehingga stratifikasi sosialnya pun seringkali diutamakan.

“Ada orang kaya adapula orang miskin. Kenyataanya bahwa orang kaya selalu memiliki rasa tidak puas dengan pencapaian atau harta yang ia miliki. Orang kaya selalu ingin lebih. Sama seperti kita, Zakeus berpikir bahwa menumpukan kekayaan akan memberikan kegembiaraan dan kebahagian bagi dirinya, teryata kenyataan menjadi lain. Sebagai orang kaya Zakeus tidak merasa bahagia dan tidak puas dalam hidupnya. Ia merasakan jiwanya besar. Oleh karena itu, Zakeus mau memulai suatu yang baru dengan mengisi kekosongan jiwanya. Ia membutuhkan seseorang yang memahami dan menerimanya dan bukan mengutuk”, pungkasnya

Lebih lanjut, Mgr. Silvester mengatakan tentang kenyataan hidup Zakeus bahwa ia tidak pernah merasa putus asa terhadap caci maki orang-orang sekitarnya dan ia berusaha untuk bertemu dengan Yesus. Maka ia pun memanjat pohon ara. Ia lupa akan statusnya. Ia lupa bahwa ia adalah orang kaya yang cukup disegani. Dengan kenyataan itu, ia ingin kembali menjadi anak Allah.

Pada bagian lain, Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng itu menekankan bahwa sikap Yesus yang rama adalah sikap Allah sendiri. Dosa manusia tidak diperhatikan supaya manusia bisa bertobat. Zakeus mengalami keramahan dan kasih sayang Yesus. Sebagai orang berdosa, Zakeus menunjukan kepada Yesus bahwa ia sudah bertobat. Karena itu, Zakeus menyadari akan menmberikan setengah dari kekayaannya kepada orang miskin. Itulah bentuk penebusan dosa Zakeus. Dengan itu ia menenmukan dirinya, kebaikan, kemurnian dan cinta dalam dirinya.

Ia menambahkan bahwa pada hari ini kita bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan rahmat-Nya kepada STIKES Santu Paulus Ruteng. Mohon berkat Tuhan juga untuk para wisudawan, segenap civitas akademika Santu Paulus Ruteng. Marilah kita belajar dari sikap hidup Zakeus yang saling memberi kepada sesama yang berkekurangan.

“Kekayaan itu tidak selalu identik dengan materi, tetapi bisa juga dalam bentuk lain seperti talenta yang kita miliki, perhatian dan kesungguhan untuk melayani sesama dengan sebaik-baiknya. Kita semua memiliki talenta yang berbeda-beda dari Roh Kudus yang satu dan sama,” tambahnya.

Pada bagian penutup, Mgr. Silvester mengajak kepada hadirin untuk berani kehilangan kekayaan. Kehilangan harta benda yang dmiliki demi kebahagiaan sejati. Belajarlah dari Zakeus untuk berani meninggalkan hidup yang berdosa, hidup yang menindas bahkan memeras sesama. Mari kita hidup untuk saling berbela rsa terhadap sesama.

“Marila kita bertobat seperti Zakeus, dalam hal ini berkaitan dengan belajar dan melaksananakan pelayanan di STIKES Ruteng, apabila kita melalaikan tugas dan tanggungjawab kita, kita hidup tidak benar dan tidak berkenan kepada Allah dan sesama, maka harus kita berani dan bertobat, maka saya yakin kita memperolah kebahagian”, tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *